Beranda

Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan penyelenggaraan IG Nasional pada saat ini dan di masa depan, diperlukan Pemutakhiran Sistem Referensi Geospasial Nasional (SRGN), baik untuk Datum Horizontal maupun Datum Vertikal dengan memperhatikan dinamika permukaan bumi. Secara resmi, Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN 95) masih berlaku hingga kini sebagai Sistem Referensi Geospasial Nasional (SRGN).

Sesuai dengan Naskah Akademik SRGN, disebutkan bahwa SRGN adalah suatu terminologi moderen yang persis sama dengan terminologi Datum Geodesi Nasional (DGN) yang telah dikenal lebih dahulu, yaitu suatu sistem koordinat nasional yang konsisten dan kompatibel dengan sistem koordinat global dan spesifik yang dinyatakan dengan lintang, bujur, tinggi, skala, gayaberat, dan orientasinya mencakup seluruh wilayah NKRI, termasuk bagaimana nilai-nilai koordinat tersebut berubah sesuai dengan fungsi waktu. SRGN juga merupakan tulang punggung dalam pembangunan Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN), sebagai suatu mekanisme utama untuk menjamin pintu masuk menuju data geospasial nasional bereferensi tunggal yang andal.

Pemutakhiran SRGN merupakan hal logis dan telah disepakati bersama pada Workshop Sistem Referensi Geospasial Nasional (SRGN) I yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2013 di Hotel Majesty Bandung. Workshop SRGN II yang dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2013 di Hotel Phoenix Yogyakarta merupakan kelanjutan dari workshop sebelumnya.

Dalam kesempatan membuka Workshop SRGN tersebut, Sekretaris Utama Badan Informasi Geospasial, Budhy Andono Soenhadi menyatakan bahwa BIG telah membentuk tim kerja untuk mempersiapkan pemutakhiran SRGN yang beranggotakan para pakar dari BIG, ITB, UGM, ITS, UNDIP, UNPAK, ITENAS, ITN. BIG juga sedang menyiapkan infrastruktur berupa aplikasi, standar dan spesifikasi teknis serta petunjuk penggunaan yang diperlukan untuk memberikan kemudahan akses terhadap SRGN 2013 bagi seluruh pengguna sehingga penyelenggaraan IG Nasional dapat mengacu kepada referensi tunggal.

Budhy menekankan bahwa perlu dilakukan antisipasi terhadap implikasi pemutakhiran SRGN yang baru, antara lain :

  1. Dampak terhadap Informasi Geospasial Dasar yang ada saat ini, yang merupakan hasil survei dan pemetaan di masa lalu;
  2. Sosialisasi pada tingkat Nasional yang diterapkan secara konsisten dibawah payung hukum yang berlaku;
  3. Re-adjusment data yang ada menjadi koordinat 4-D Nasional dan mendefinisikan kerangka refernsi DGN baru yang konsisten terhadap International Terrestrial Reference Frame (ITRF) dan World Geodetic System 1984 (WGS84) terkini.

Diharapkan dari Workshop SRGN II ini akan tersusun draft naskah akademis SRGN baru, terdefinisikannya SRGN baru, dan terdefinisikannya permasalahan dalam penerapan SRGN. SRGN yang baru merupakan kebutuhan nasional, diharapkan masukan konkrit dari pemangku kepentingan agar implementasi SRGN sebagai referensi tunggal dalam penyelenggaraan IG Nasional dapat dilaksanakan secara efektif.