Sistem Referensi Geospasial Indonesia

JARING KONTROL GEODESI

 Sistem Referensi Geospasial merupakan suatu sistem koordinat nasional yang konsisten dan kompatibel dengan sistem koordinat global. Sistem tersebut secara spesifik menentukan lintang, bujur, tinggi, skala, gayaberat, dan orientasinya mencakup seluruh wilayah Indonesia, termasuk bagaimana nilai-nilai koordinat tersebut berubah terhadap waktu. Dalam realisasinya sistem referensi geospasial ini dinyatakan dalam bentuk Jaring Kontrol Geodesi Nasional. Setiap titik kontrol geodesi akan memiliki nilai koordinat awal yang didefinisikan pada epoch 2012.0 tanggal 1 Januari 2012 yang terikat pada kerangka referensi global ITRF2008..

Jaring Kontrol Geodesi merupakan objek fisik yang berada di lapangan yang mewakili model-model fisik bumi di atas. Jaring kontrol geodesi ini berdasarkan pada UU Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial berupa Jaring Kontrol Horizontal Nasional (JKHN), Jaring Kontrol Vertikal Nasional (JKVN), dan Jaring Kontrol Gayaberat Nasional (JKGN). Bukti fisik di lapangan dari jaring kontrol geodesi ini berupa pilar titik kontrol, pilar titik gayaberat, dan stasiun pasut.

Informasi lebih lanjut dapat diunduh pada tautan ini.

 

 INA-CORS

 Stasiun Global Navigation Satellite System (GNSS) Continuously Operating Reference Station (CORS) merupakan jaring kerangka geodetik aktif berupa stasiun permanen (base station) dilengkapi dengan receiver dan dapat menerima sinyal-sinyal dari satelit GNSS yang beroperasi secara kontinyu setiap hari. Di Indonesia, CORS digunakan untuk keperluan praktis dan penelitian. Dalam hal keperluan praktis, CORS dimanfaatkan untuk menyediakan layanan data kepada masyarakat umum untuk keperluan pemetaan. Layanan data yang dimaksud adalah mengenai penentuan posisi, baik secara realtime melalui layanan koreksi RTK (Real Time Kinematic) maupun post-processing. Penentuan posisi banyak dilakukan untuk penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), Pendaftaran Tanah Sistematik Langsung (PTSL), dan pekerjaan terkait konstruksi.

Ina-CORS adalah CORS yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial sebagai stasiun pengamatan geodetik tetap/kontinu yang beroperasi secara terus-menerus selama 24 jam/7 hari untuk merekam data satelit GNSS yang diterima. Ina-CORS bertujuan untuk menjaga tingkat akurasi dan presisi dari kerangka dasar geodetik yang telah dibangun serta mendukung penyelenggaraan pemetaan dasar, penyelenggaraan sistem referensi vertikal, untuk monitoring pergerakan lempeng bumi, studi geodinamika, riset meteorologi dan ionosfer, serta untuk keperluan sensor tsunami early warning system.

Informasi lebih lanjut dapat diunduh pada tautan ini.

 

 INA-TIDES

Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) yang saat ini berubah nama menjadi Badan Informasi Geospasial (BIG) telah melakukan pengamatan pasang surut sejak tahun 1984 untuk keperluan pemetaan. Seiring berjalannya waktu, data pasang surut juga digunakan untuk keperluan lain di antaranya untuk pembangunan infrastruktur, penelitian, dan peringatan dini tsunami. Hingga tahun 2018, BIG memiliki 139 stasiun pasang surut yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pengamatan data pasang surut saat ini dilakukan secara digital dan terkirim secara otomatis ke pusat pengamatan yang berada di BIG dan disalurkan juga ke Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pengelolaan kegiatan pengamatan data pasang surut BIG dilakukan oleh Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika.

Informasi lebih lanjut dapat diunduh pada tautan ini.